Aku ini bukan binatang jalang dari kumpulannya terpisah, tapi seorang gadis belia yang ingin merantau, jauh dari kampung halaman, dan sanak saudara. Selesai sekolah menegah atas ( sma ) BTB, aku berangkat seperti teman2 lainnya untuk melanjutkan sekolah. Tapi sebelum berangkat harus mengurus surat2, tanda kelakuan baik, kesehatan tidak berpenyakit tbc.
Semua ber belit2, aku memeras tenaga dan waktu juga duit. My god, kok begitu banyak aturan ?..Tapi karena sudah bertekad harus berangkat, aku berusaha untuk persiapan tersebut. Darimana duitnya? susah juga harus cari akal, orangtua tidak mau tau, bagi ibunda tersayang anak perempuan cukup tamat sma, lalu menikah, dan berkumpul dekat2 disekitarnya.
Karena dia sendiri tidak pernah sekolah, lain dengan bapak tercinta, tamatan sma zaman belanda, termasuk orang pintar dan bijaksana. Beliau mendorong maksudku untuk melanjutkan sekolah, aku jual padi, ketika mereka pergi ke pasar pada hari jumat, saya menjual padi sedikit dibantu sama temanku, cukup untuk semua urusan.
Keberangkatan sudah ditentukan, kedua orangtuaku ikut juga mengantar putrinya yang keras kepala ini sampai ke Medan, kami menginap ditempat saudara bapa yang bekerja di brimop (polisi berselempang putih), kelihatannya gagah dan berbibawa, tapi masih tinggal di mess. Karena sempit untuk tiga orang tamu, aku saja yang tinggal disana untuk mengurangi pengeluaran.
Pagi2 sekali kami berangkat ke Belawan, disana sudah mendarat Tampomas, kapal yang akan berangkat ke Jakarta, membawa anak2 sekolah dan inang2 yang berdangang. Penuh sesak, seperti ikan rebus dan harus berlomba masuk untuk mencari tempat didek, berjejer tidak ada batas antara penumpang. Sampai diatas kapal langsung aku duduk, takut tempatku diambil orang lain.
Saat kapal mulai bertolak dan meninggalkan Belawan terdengar lagu : "Selamat tinggal teluk bayur permai", di kapal aku berkenalan dengan teman satu sma, dan juga dari kota yang lain, cerita sepanjang pelayaran, kemana tujuan masing2. Dulu di Balige kita tidak saling mengenal banyak anak orang kaya, di antar naik mobil, aku sendiri jalan kaki turun dari gunung, kaki telanjang, baru dekat sekolahan di pakai, heheheheeee, biar tahan lama, pulangnya juga dibuka, ditaruh diatas kepala, sebenarnya sepatu untuk alas kaki, tapi kami bawa diatas kepala, karena itu jatah untuk setahun .
Teman2ku yang tersayang kami tidak merasa kekurangan, tapi harus tau menggunakan dengan se baik mungkin, karena sudah terbiasa berlari setiap pagi biar jangan terlambat sekolah, kaki jadi tebal dan kuat, batu kita tendang, duri kita injak jadi remuk, ada juga baiknya tidak pakai sepatu.
Dibidang olah raga aku tetap paling kuat, kalau ada pertandingan volly, lomba lari, pasti menang. Akhirnya kapal mendarat di Tanjung periuk, semua bergegas turun, angkat barang masing2, saling senggol, saling mendorong, biar cepat2 keluar, aku sama teman2 yang jumpa dikapal sudah bermak sud, langsung naik kereta api ke Yogya, sama2 dengan yang bertujuan ke Magelang. Tapi begitu aku turun, dan keluar pintu pelabuhan, aku di tanyai sama seorang bapak2, dengan anaknya, dia bilang "aku bapa udamu", mari ikut aku ke rumah .
Aku ragu2, siapa tau ini ada maksud garong yang di bicarakan orang di desa2, hati2, banyak copet banyak pencuri, yang di incer orang2 yang baru datang dari seberang, dan terkenal orang orba juga. Sesudah di ceritakan bahwa bapak menulis surat padanya, kasih tau aku mau datang, dan memang aku pernah tau kalau di Jakarta ada adik mama, aku kenal, tapi suaminya ini aku hanya pernah lihat difoto, itu juga sudah ber tahun2 lamanya.
Aku berangkat dengan bapauda, teman2ku meneruskan perjalanannya ke tujuan masing2. Aku tinggal di Jakarta sudah hampir satu minggu , aku sudah bilang pada om kalau tujuanku ke Yokgyakarta, omku bilang" nanti kuantar ,beres" . Duit ku yang tidak banyak diminta omku untuk di simpan, nanti di kembalikan kalau aku mau pergi katanya.
Untung ada teman sekampung yang sudah duluan berangkat ke Jawa, tiba2 saja dia muncul di rumah omku, aku senang setegah mati, dan dai tanya saya mau sekolah kemana? Aku bilang Yogyakarta. Ayo berangkat sekarang, aku di Mangelang, besoknya kami naik kereta api ke Yogyakarta, omku kembalikan duitku, aku percaya hitungannya benar, tapi ternyata kurang, lipatannya benar jumlahnya, tapi dalamnya berkurang .
Semua ber belit2, aku memeras tenaga dan waktu juga duit. My god, kok begitu banyak aturan ?..Tapi karena sudah bertekad harus berangkat, aku berusaha untuk persiapan tersebut. Darimana duitnya? susah juga harus cari akal, orangtua tidak mau tau, bagi ibunda tersayang anak perempuan cukup tamat sma, lalu menikah, dan berkumpul dekat2 disekitarnya.
Karena dia sendiri tidak pernah sekolah, lain dengan bapak tercinta, tamatan sma zaman belanda, termasuk orang pintar dan bijaksana. Beliau mendorong maksudku untuk melanjutkan sekolah, aku jual padi, ketika mereka pergi ke pasar pada hari jumat, saya menjual padi sedikit dibantu sama temanku, cukup untuk semua urusan.
Keberangkatan sudah ditentukan, kedua orangtuaku ikut juga mengantar putrinya yang keras kepala ini sampai ke Medan, kami menginap ditempat saudara bapa yang bekerja di brimop (polisi berselempang putih), kelihatannya gagah dan berbibawa, tapi masih tinggal di mess. Karena sempit untuk tiga orang tamu, aku saja yang tinggal disana untuk mengurangi pengeluaran.
Pagi2 sekali kami berangkat ke Belawan, disana sudah mendarat Tampomas, kapal yang akan berangkat ke Jakarta, membawa anak2 sekolah dan inang2 yang berdangang. Penuh sesak, seperti ikan rebus dan harus berlomba masuk untuk mencari tempat didek, berjejer tidak ada batas antara penumpang. Sampai diatas kapal langsung aku duduk, takut tempatku diambil orang lain.
Saat kapal mulai bertolak dan meninggalkan Belawan terdengar lagu : "Selamat tinggal teluk bayur permai", di kapal aku berkenalan dengan teman satu sma, dan juga dari kota yang lain, cerita sepanjang pelayaran, kemana tujuan masing2. Dulu di Balige kita tidak saling mengenal banyak anak orang kaya, di antar naik mobil, aku sendiri jalan kaki turun dari gunung, kaki telanjang, baru dekat sekolahan di pakai, heheheheeee, biar tahan lama, pulangnya juga dibuka, ditaruh diatas kepala, sebenarnya sepatu untuk alas kaki, tapi kami bawa diatas kepala, karena itu jatah untuk setahun .
Teman2ku yang tersayang kami tidak merasa kekurangan, tapi harus tau menggunakan dengan se baik mungkin, karena sudah terbiasa berlari setiap pagi biar jangan terlambat sekolah, kaki jadi tebal dan kuat, batu kita tendang, duri kita injak jadi remuk, ada juga baiknya tidak pakai sepatu.
Dibidang olah raga aku tetap paling kuat, kalau ada pertandingan volly, lomba lari, pasti menang. Akhirnya kapal mendarat di Tanjung periuk, semua bergegas turun, angkat barang masing2, saling senggol, saling mendorong, biar cepat2 keluar, aku sama teman2 yang jumpa dikapal sudah bermak sud, langsung naik kereta api ke Yogya, sama2 dengan yang bertujuan ke Magelang. Tapi begitu aku turun, dan keluar pintu pelabuhan, aku di tanyai sama seorang bapak2, dengan anaknya, dia bilang "aku bapa udamu", mari ikut aku ke rumah .
Aku ragu2, siapa tau ini ada maksud garong yang di bicarakan orang di desa2, hati2, banyak copet banyak pencuri, yang di incer orang2 yang baru datang dari seberang, dan terkenal orang orba juga. Sesudah di ceritakan bahwa bapak menulis surat padanya, kasih tau aku mau datang, dan memang aku pernah tau kalau di Jakarta ada adik mama, aku kenal, tapi suaminya ini aku hanya pernah lihat difoto, itu juga sudah ber tahun2 lamanya.
Aku berangkat dengan bapauda, teman2ku meneruskan perjalanannya ke tujuan masing2. Aku tinggal di Jakarta sudah hampir satu minggu , aku sudah bilang pada om kalau tujuanku ke Yokgyakarta, omku bilang" nanti kuantar ,beres" . Duit ku yang tidak banyak diminta omku untuk di simpan, nanti di kembalikan kalau aku mau pergi katanya.
Untung ada teman sekampung yang sudah duluan berangkat ke Jawa, tiba2 saja dia muncul di rumah omku, aku senang setegah mati, dan dai tanya saya mau sekolah kemana? Aku bilang Yogyakarta. Ayo berangkat sekarang, aku di Mangelang, besoknya kami naik kereta api ke Yogyakarta, omku kembalikan duitku, aku percaya hitungannya benar, tapi ternyata kurang, lipatannya benar jumlahnya, tapi dalamnya berkurang .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar